Menarik tulisan tentang ini dari kang Rendy Saputra yang pasti jarang dibahas dan awam diketahui.
Konsep Holacracy ini pertama kali diperkenalkan oleh Brian Robertson, seorang pengusaha dan mantan pemrogram komputer. Robertson mengembangkan Holacracy sebagai sistem operasional untuk organisasi yang bertujuan untuk membuat struktur kekuasaan lebih transparan dan desentralisasi pengambilan keputusan.
Salah satu contoh terkenal yang berhasil menerapkan sistem Holacracy adalah Zappos, perusahaan yang bergerak di bidang penjualan sepatu dan pakaian secara online. Zappos mengadopsi Holacracy pada tahun 2013 sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kinerja organisasi dan memperkuat budaya perusahaan yang inovatif dan responsif terhadap perubahan pasar. Meskipun transisi tersebut menghadapi tantangan, termasuk meningkatnya turnover karyawan, banyak di Zappos yang melihat peningkatan dalam hal keterlibatan karyawan dan kecepatan pengambilan keputusan sebagai hasil dari penerapan Holacracy.
Kenapa terjadi banyak turnover di beberapa organisasi yang menganut konsep ini?
Karena konsep holacracy menuntut kurva pembelajaran yang signifikan dari para team membernya. Dan tantangan (challenge) yang timbul serta perlu diatasi adalah timbulnya lapisan-lapisan baru yang mempersulit koordinasi lintas fungsi.
Kenapa muncul lapisan-lapisan baru?
Karena jika pembelajaran tidak seragam kurvanya, akan ada yang dominan yang jika tidak dikontrol maka dia menjadi “komando kecil” dalam struktur.
Namun saya yakin, SIDAQ dengan value Al-Quran dan fokus pada pemahaman Al-Quran akan dapat mengatasi timbulnya “tantangan” tersebut.
-mistercatur-
Hidup taat, hidup sehat, hidup manfaat






