Ini lanjutan cerita slides slides kehidupan atau pembelajaran di komplek Masjid Kapal Munzalan Pontianak. Di mana cerita sebelumnya ada di dua postingan sebelumnya.
Malam setelah silaturahmi orang tua asuh Masjid Kapal Munzalan kami beristirahat di ruangan yang sudah disediakan. Jam waktu itu menunjukkan pukul 11 malam, masyaAllah ga kerasa waktu hingga larut dengan berbagai kegiatan yang kami ikuti.
Jam 02.00 pagi kami sudah terbangun, sebenarnya bukan karena kami sholeh-sholeh amat ya, tapi pertama ingin maksimalin recharge keimanan sehingga ikut tahajud / sholat malam, kedua bakal ngerasa malu kalau sampai bangun kesiangan (mungkin dorongan pertama malah alasan kedua kali ya 😅).
Masjid sudah mulai rame dari sholat malam hingga subuh berjamaah (Alhamdulillah ga jadi tamu yang bikin malu dengan bangun kesiangan hehe).
Selanjutnya seperti biasa ada kajian SMK dari Kiyai Luqmanulhakim Ashabul Yamin. Peserta kali ini sungguh istimewa, ada rombongan ibu-ibu dari suatu daerah yang kayaknya jauh dari Pontianak hadir ke Masjid Kapal Munzalan.
Batin saya nanya, “Naik apa kesini ya? Hebat semangatnya.”
Saat sarapan, kami dipanggil Kiyai: “Mister sini liat ke depan.”
Dan,, MasyaAllah saya lihat ibu-ibu itu bahagia sekali selfie-selfie sambil tertawa riang di depan, di dalam 2 (dua) mobil Alphard yang disediakan Masjid Munzalan. Iya sengaja mobil-mobil Alphard itu dihadirkan untuk membahagiakan mereka. Bahkan ternyata mobil Alphard itu yang mengantarkan ibu-ibu tersebut dari daerah.
Biasanya Alphard dan mobil mewah identik disiapkan untuk tamu-tamu istimewa dengan jabatan tinggi, dan memang di Munzalan mobil mewah disiapkan untuk tamu sangat istimewa, tamu-tamu Allah yang hadir ke rumah-Nya memuliakan rumah-Nya.
-slides kehidupan lainnya, yang Mulia hanyalah yang Bertaqwa dan tidak melihat dari sisi manusia yang banyak tipu daya-
—————————————
Saya tahu diri, karena tamu lain pasti juga ingin berdiskusi dan bertemu AyahMan. Karena saya ga bisa diam, maka saya tertarik melihat bangunan samping masjid yang tampak masih dalam proses pembangunan. Saya pun ke sana ditemani dengan adik AyahMan yang tiba-tiba ada di sebelah saya (nampaknya semua gerak-gerik tamu diperhatikan, dalam arti positif ya.. ga dibiarkan tamu itu luntang-lantung istilahnya).
Naik ke lantai 1, lho saya kaget. “Ini sudah digunakan?” saya bertanya.
“Iya mister, setiap lantai meski belum sempurna selesai, sejak bisa digunakan sudah digunakan, ada untuk sekolahan, kantor hingga ballroom di atas sudah digunakan dan sempat Guru kita Ustadz Abdul Somad mengisi di sini,” jawab beliau.
“Saya kira belum jadi belum digunakan bangunan ini, jadi semua sudah difungsikan ya meski masih dalam proses pembangunan?” sambung saya.
“Iya mister, Kiyai menyampaikan saat sudah bisa digunakan difungsikan langsung saja, tidak perlu menunggu sempurna untuk memulai.”
-slide kehidupan lainnya: kebaikan, manfaat langsung dijalankan, tidak perlu menunggu sempurna untuk memulai-
Di lantai tower paling atas, saya memandang ke arah lahan yang dijadikan parkiran mobil. “Berapa total mobil wakaf di sini?” tanya saya.
“Semua sekitar 32-an mobil mister.”
“Dan semua muter itu ya kendaraan, ga diam?” lanjut saya lagi.
“Alhamdulillah, mister lihat sendiri tamu tak henti-henti datang, program banyak berjalan, Allah mudahkan semua wakaf menjadi manfaat,” terang beliau.
MasyaAllah, berkah bener, pantesan datang terus wakaf, dititipkan Allah digunakan sebaik-baiknya untuk jalan Allah.
“Nah itu mister, mobil minibus yang di sana,” beliau menunjuk.
“Itu mobil pertama Munzalan, dan dulu saat memulai kegiatan Masjid Kapal Munzalan, mobil itu digunakan untuk menjemput jamaah yang mau ke masjid dan mengantarkannya lagi pulang.”
Ya, saya dan Anda ga salah dengar atau baca. Untuk memulai syiar dakwahnya, Masjid Kapal Munzalan melakukan jemput bola, bener-bener dijemput satu per satu ke masjid lalu diantarkan kembali pulang satu per satu.
Tidak perlu menunggu sempurna untuk memulai.
Jadi, kapan Memulai?
-mistercatur- Ikhtiar terbaik jadi saluran rezeki-Nya






