Mumpung lagi bisa sering nulis.
Bangun bisnis partneran, lebih sering saya yang memberi modal dalam bentuk uang. Meskipun juga terkadang sama-sama menjalankan bisnis atau usaha yang dijalankan.
Beberapa usaha lain, purely saya sebagai pemodal yang memberi modal usaha.
Gimana caranya dulu bisa mau jadi pemodal atau investor? Ya pertama, pasti udah kenal orangnya, yang kedua hitungan di atas kertas menguntungkan, terakhir produknya kenal/familiar.
Ternyata, udah kenal, perkiraan akan untung, produknya juga tau… ada ajaa kejadian yang akhirnya ga enak. Rugi dan uang hilang, plus hilang kawan.
Lho kok bisa? Iya karena dari persentase kegagalan saya, yang paling besar malah “tertipu/ditipu” partner. Kok bisa? Kan dah kenal?
Mungkin jawaban sederhananya: saya merasa kenal dalam pertemanan tapi ga mengenal dalam muamalahnya.
Ada persentase lainnya yaitu memang ternyata bisnisnya yang tidak sesuai market atau ekspektasi, jauh dari catatan / oretan atas kertas.
Itu jadi pembelajaran saya pribadi, dan cukup mahal biaya belajar saya. Miliaran harus saya relakan.
Alhamdulillah sekarang, perjalanan peran saya sebagai investor mencapai rate keberhasilan 87.6% hadha min fadli rabbi. Tentu namanya usaha ga semua pasti berhasil, tapi gagal yang ada tidak menimbulkan luka, meski masih ada satu dua.
Buat para investor atau yang meniatkan dirinya jadi investor karena keterbatasan waktu—misal masih bekerja, atau mau mendiversifikasi revenue stream—semoga ga ngalamin biaya belajar yang mahal yang saya alamin.
Di sini ada juga yang sebagai shohibul maal atau investor di bisnisnya?
-mistercatur-






