Baik dalam dunia usaha, profesional, sosial masyarakat, hingga ke keluarga pastinya kita akan banyak berkomunikasi atau berhubungan dengan pihak lain.
Di dunia usaha kita akan berinteraksi dengan partner, team, mitra, customer dan pihak-pihak external maupun internal lainnya, bahkan dengan pihak front office dari satpam hingga office boy.
Di sosial masyarakat kita akan berinteraksi dengan tetangga paling minimal. Bahkan di keluarga kita akan berinteraksi dengan pasangan, anak, mertua, orang tua, saudara-saudara lain. Termasuk di lembaga dakwah filantropy atau non profit, interaksi dengan sesama pendiri, pengurus, donatur dan pihak lain pasti terjadi.
Tidak bisa dihindari karena kita sudah ditakdirkan untuk berinteraksi dan saling mengenal sebagaimana tertuang dalam Al-Quran salah satunya:
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat: Ayat 13)
Proses saling mengenal ini ditekankan, artinya kita satu dan yang lain ada perbedaan, baik budaya, cara komunikasi, sifat, dll yang memungkinkan adanya KESALAHPAHAMAN dan INFORMASI yang disampaikan TIDAK SAMPAI, sehingga bisa menimbulkan PRASANGKA bahkan menuju FITNAH (naudzubillah).
Bahayanya di saat sekarang ini, jika terjadi selisih paham maka pihak yang berselisih paham lebih suka bercerita ke pihak lain yang tidak berkepentingan, dan berita mulut ke mulut ini berpotensi meruncingkan keadaan. Atau bahkan lebih sering kita temui status atau tulisan di media sosial yang seolah menyindir pihak lain, dan terjadi saling sindir sedang di permukaan seolah biasa saja. Berpotensi menjadikan kita orang yang munafik bahkan fasik. Orang gemar saat ini menyindir-nyindir kepada pihak lain tanpa pernah mau berkomunikasi menyelesaikan secara langsung.
Ada yang sering dilupakan dalam hal ini apa yang Islam ajarkan untuk menanggulangi perselisihan atau kesalahpahaman, yaitu TABAYYUN.
#TABAYYUN yang terlupakan
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang yang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (QS Al Hujurat ayat 6)
Bisa jadi berita itu benar, dan pihak lain memang melakukan kesalahan, tapi apakah sesuai dengan perintah Quran jika kita alih-alih saling melakukan koreksi, berdamai, tapi malah mempergunjingkan secara langsung atau tidak langsung yang menimbulkan prasangka di pihak-pihak luar yang tidak mengetahui akar masalahnya.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS Al Hujurat 12)
Sudah sering kita dengar dalam ayat Al-Quran ini, lalu mengapa kita melupakannya dan terlilit.
Saya sharing kajian di yayasan atas fenomena saling gunjing, sindir terutama di media sosial terhadap sesama muslim yang tentu menyedihkan. Semoga saya pribadi dan kita semua bisa kembali lagi ke solusi yang sudah disiapkan di Al-Quran dan Sunnah.
Menanggalkan harga diri, ego, posisi, kedudukan di mata manusia, karena mudah bagi Allah kita yakin membolak-balikkan posisi tersebut. Now kita mungkin dititipi harta, bisnis yang lancar, kedudukan yang tinggi, tokoh masyarakat yang diidolakan, bisa jadi semudah membalikkan tangan Allah menukarnya.
Semoga bermanfaat.
-mc- Ikhtiar menjadi saluran rezekiNya






