#Working Capital yang tidak tepat

#Working Capital yang tidak tepat

Sering kali, kita menganggap bahwa dengan menggunakan aset sendiri maka akan lebih menguntungkan dibandingkan dengan menggunakan aset orang lain yang biaya sewanya mungkin tidak terkontrol karena sewaktu-waktu bisa dinaikkan oleh si pemilik aset.

Memang di dalam perhitungan laba rugi, biaya sewa itu langsung hilang saat kita tidak menggunakan aset orang lain. Dan bahayanya sering kali saya temukan (termasuk saya dulu karena belum paham), meskipun menggunakan aset sendiri ada yang namanya depresiasi yang seharusnya dimasukkan dalam komponen perhitungan laba rugi.

Sehingga menjadi silent killer kebocoran biaya yang tidak tercatat dan menyebabkan salah dalam perhitungan asumsi harga jual dan keuntungan.

Hal lainnya adalah kita seringkali lupa, saat memiliki aset sendiri maka akan ada biaya perawatan, dan juga jika itu dalam bentuk bangunan (pabrik, kantor, gudang) ada biaya pajak-pajak dan biaya perizinan yang melekat.

Maka poin di sini saya ingatkan adalah perihal pencatatan keuangan.

Efek lain yang lebih berbahaya adalah saat kita terlalu agresif dalam penggunaan working capital yang diubah menjadi aset (peralatan ataupun perlengkapan, sudah tahu kan bedanya?) maka daya ungkit perusahaan menjadi melemah.

Kok bisa? Iya bisa, karena dananya sudah tertanam dan berubah menjadi aset.

Misalnya kita bangun pabrik atau gudang, habis miliaran atau puluhan bahkan ratusan miliar. Maka yang awalnya ada cadangan cash lebih banyak untuk daya ungkit saat persaingan makin ketat, sekarang menjadi lemah. Dan pabrik atau bangunan lain itu tidak mudah loh dijual lagi atau diliquidkan.

Maka pastikan sebelum mengonversi working capital, minimal pertimbangkan hal-hal berikut:

  • Apakah marketnya masih growing setidaknya 3-5 tahun ke depan? Atau hanya produk seasonal?
  • Apakah produk kita tidak mudah ditiru kompetitor?
  • Apakah sudah memiliki business plan yang jelas hingga 10 tahun dengan meningkatkan investasi pada aset tersebut?

Solusinya apa, jika diperlukan peningkatan aset tapi tetap menjaga kemampuan daya ungkit perusahaan? Jawabannya: Jual saham/jual kepemilikan sebagian, cari partner sebagai funder atau shohibul maal.

#Cross Posting budget

Saat posisi jualan lagi naik-naiknya, lagi enjoy-enjoy-nya menikmati omset, mulai “kreativitas” bermain. Dan salah satunya yang jadi penyakit adalah “rasa ingin diakui”, sehingga mulai memandang “Personal Brand Image” sangat penting, akhirnya “meminta” budget lebih untuk hal tersebut.

“Kreativitas” lainnya adalah mulai bermain dengan fleksibilitas budget, menggampangkan membongkar budget yang sudah disetting sebelumnya. Dan yang paling sering terjadi adalah overbudget di sisi marketing, mulai terlalu jor-joran untuk meningkatkan iklan, ads, sehingga sampai lupa ada satu pos budget yang sering dilupakan atau dikecilkan, yaitu R&D (Research & Development).

Apalagi jika tipe produk yang kita jual masuk dalam kategori commodity, yang gampang sekali ditiru dan mudah sekali pemain baru masuk, maka inovasi menjadi hal yang wajib. Dan inovasi bisa diperoleh kalau kita terus melakukan kegiatan R&D.

Ketidakdisiplinan dalam penggunaan anggaran, kesalahan prioritas budget, fleksibilitas posting budget berlebihan, apalagi tidak punya perencanaan budget, yakinlah perlahan demi pasti masa kehancuran itu akan datang.. heehee

-mistercatur- Pengusaha yang menjadikan diri saluran rezeki-Nya


Apakah draf tulisan yang sangat berbobot dan sarat dengan strategi keuangan bisnis ini sudah siap untuk Anda upload ke website? 😊

✨ Jika Anda tertarik, saya bisa menyajikan tulisan spiritual yang menjadi pasangannya yang berjudul “Pohon Sahabi dan Gua Hira” (#20230304-001). Tulisan tersebut mengingatkan kita untuk tahu kapan harus “menepi” sejenak dari penatnya dunia bisnis. Mau kita bahas itu berikutnya?

Sumber: Facebook Mister Catur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

About Us

Founder Yayasan Rumah Tahfidz Baitul Ulum
Owner-Founder CGlinkCoorp

Pengusaha Muslim

Tags

Social Links