“Dialah (Allah) yang menciptakan segala yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 29)
Bagaimana sebagian orang mengartikan jika berhenti membaca sampai di sana dan mengabaikan bagian akhirnya? Menganggap semua yang ada di langit dan di bumi sudah diberikan untuk kita, boleh diambil dan digunakan semaksimal serta sebanyak-banyaknya—bisa jadi itu mental kebanyakan orang.
Seperti saat kita datang ke restoran all you can eat, perhatikan bagaimana sebagian orang membawa tumpukan tray makanan ke mejanya dan menyisakan banyak saat pulang. Karena sudah merasa berhak, merasa rugi kalau tidak ambil sebanyak tangan bisa meraih.
Juga saat membeli makanan di resto, kita memilih lebih sering meninggalkan sisa makanan dibanding meminta di awal untuk dikurangi porsinya meski bayar penuh.
Di saat bepergian dengan maskapai full services contohnya, sering kali tetap diambil dan diterima makanan yang disediakan meskipun sebetulnya perut sudah tidak membutuhkan. Hanya karena merasa hak dan sudah bayar, namun akhirnya menyia-nyiakan.
Menakar kemampuan terima saat ada kemampuan lebih memberi bisa dipertimbangkan untuk dilakukan.
Contoh dari sisi makanan lebih mudah disampaikan, meski tentu hal ini berlaku untuk pakaian, tas, sepatu, dan lain-lain yang kita miliki—kita beli hanya karena merasa mampu membeli tapi tidak memerlukan sebetulnya. Sehingga jadi barang pajangan yang akan menambah waktu hisab kita di akhirat nanti.
Biasakan untuk tidak berlebihan, biasakan untuk mencegah kemungkaran di awal. Dalam konteks sederhana ini: meminta hanya apa yang kita butuhkan dalam keseluruhan yang sudah menjadi hak kita, mengambil sejumlah yang kita perlukan, dan tidak menyia-nyiakannya agar tidak terbuang percuma.
Karena ada lanjutan ayat-ayat-Nya — firman Allah SWT:
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap [masuk] masjid, dan makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190)
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat-ayat ini mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan dalam segala aspek kehidupan dan memperingatkan tentang bahaya berlebih-lebihan serta kerusakan yang bisa merugikan bumi maupun manusia itu sendiri.
Hal ini dimulai dari kita untuk TIDAK BERLEBIH-LEBIHAN.






