Menarik tulisan tentang ini dari kang Rendy Saputra yang pasti jarang dibahas dan awam diketahui[1].
Konsep Holacracy ini pertama kali diperkenalkan oleh Brian Robertson, seorang pengusaha dan mantan pemrogram komputer[2]. Robertson mengembangkan Holacracy sebagai sistem operasional untuk organisasi yang bertujuan untuk membuat struktur kekuasaan lebih transparan dan desentralisasi pengambilan keputusan[2].
Salah satu contoh terkenal yang berhasil menerapkan sistem Holacracy adalah Zappos, perusahaan yang bergerak di bidang penjualan sepatu dan pakaian secara online[2]. Zappos mengadopsi Holacracy pada tahun 2013 sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kinerja organisasi dan memperkuat budaya perusahaan yang inovatif dan responsif terhadap perubahan pasar[2]. Meskipun transisi tersebut menghadapi tantangan, termasuk meningkatnya turnover karyawan, banyak di Zappos yang melihat peningkatan dalam hal keterlibatan karyawan dan kecepatan pengambilan keputusan sebagai hasil dari penerapan Holacracy[2].
Kenapa terjadi banyak turnover di beberapa organisasi yang menganut konsep ini?
Karena konsep holacracy menuntut kurva pembelajaran yang signifikan dari para team membernya[3]. Dan tantangan (challenge) yang timbul serta perlu diatasi adalah timbulnya lapisan-lapisan baru yang mempersulit koordinasi lintas fungsi[3].
Kenapa muncul lapisan-lapisan baru? Karena jika pembelajaran tidak seragam kurvanya, akan ada yang dominan yang jika tidak dikontrol maka dia menjadi “komando kecil” dalam struktur[3].
Namun saya yakin, SIDAQ dengan value Al-Quran dan fokus pada pemahaman Al-Quran akan dapat mengatasi timbulnya “tantangan” tersebut[3].
-mistercatur- Hidup taat, hidup sehat, hidup manfaat






