Di sebuah kafe kecil yang tenang, dua sahabat, Andi dan Budi, terlibat dalam percakapan hangat.
“Menurutmu, boleh nggak sih kita membuka aib orang lain demi mencegah kemungkaran?” tanya Andi sambil menyesap kopinya.
Budi meletakkan cangkirnya perlahan. “Secara umum, Islam melarang kita membuka aib sesama Muslim. Menjaga kehormatan dan privasi orang lain itu penting banget. Tapi, ada situasi tertentu di mana membuka aib diperbolehkan, terutama kalau tujuannya untuk mencegah kemungkaran yang lebih besar.”
“Situasi seperti apa yang membolehkan kita buka aib seseorang?” Andi mengangguk pelan, menunjukkan ketertarikannya.
“Menurut Imam al-Nawawi, ada enam kondisi yang membolehkan membuka aib,” jelas Budi dengan tenang.
“Pertama, kalau kita dizalimi, kita boleh mengadu ke pihak berwenang untuk mendapatkan keadilan.
Kedua, meminta tolong kepada orang yang bisa mengubah kemungkaran dan membimbing pelaku maksiat ke jalan yang benar.
Ketiga, menceritakan masalah yang dihadapi kepada mufti atau ulama untuk mendapatkan fatwa, meskipun harus menyebutkan aib pihak terkait.
Keempat, memberikan nasihat atau peringatan kepada seseorang tentang keburukan individu lain yang perlu dihindari, misalnya dalam konteks pernikahan atau bisnis.
Kelima, orang yang secara terbuka melakukan maksiat boleh disebut keburukannya sebagai peringatan bagi orang lain.
Dan keenam, menyebut seseorang dengan julukan tertentu yang mungkin mengandung aib jika itu satu-satunya cara untuk mengenali mereka, tanpa niat merendahkan.”
Andi merenung sejenak. “Jadi, dalam konteks nahi mungkar, kita boleh buka aib seseorang?”
“Iya,” Budi mengangguk. “Kalau membuka aib itu bisa mencegah kemungkaran yang lebih besar dan memenuhi salah satu dari kondisi tadi, maka diperbolehkan. Tapi, penting banget memastikan niat kita murni untuk perbaikan dan dilakukan dengan cara yang bijaksana, tanpa menimbulkan fitnah atau kerusakan lebih lanjut.”
Sambil tersenyum tipis, Andi berkata, “Ngomong-ngomong soal itu, ibaratnya kayak cerita tentang orang yang beli iPhone, terus bilang iPhone jelek dan ngajak orang lain nggak beli, padahal mungkin dia sendiri nggak bisa ngoperasiinnya dengan baik. Gimana menurut lo?”
Budi tertawa kecil. “Nah, itu contoh bagus. Kadang orang cepat menilai tanpa memahami sepenuhnya. Sama kayak yang ikut seminar atau workshop, terus bilang pembicaranya nggak punya bisnis gede, jadi materinya nggak ngefek. Padahal mungkin dia sendiri malas belajar atau nggak menerapkan ilmunya.”
“Iya,” Andi menambahkan, “atau yang diajak investasi, langsung ikut tanpa riset, terus pas gagal malah nuduh yang ngajak penipu.”
“Persis,” Budi menghela napas. “Menurut saya, benang merahnya adalah kurangnya kemauan untuk belajar. Dalam Islam, menuntut ilmu itu wajib. Dengan belajar, kita bisa menghindari kesalahan dan nggak gampang terjebak dalam situasi merugikan.”
Andi mengangguk setuju. “Jadi, solusinya rajin belajar ya?”
“Betul,” Budi tersenyum. “Dengan belajar, kita nggak akan asal bicara atau nyebarin berita yang belum tentu benar. Kita juga bisa ambil keputusan yang tepat tanpa harus tahu keburukan orang lain. Intinya, jangan betah dalam kebodohan dan selalu berusaha meningkatkan pengetahuan.”
Percakapan mereka berlanjut, semakin mendalam, mengingatkan keduanya akan pentingnya memahami ajaran Islam secara menyeluruh agar dapat menjalankan perintah agama dengan tepat dan bijaksana.
Dan perintah pertama dalam quran itu IQRA
-mistercatur-
Silahkan di share jika mendapatkan pembelajarannya


