Andi dan Budi masih duduk di kafe kecil itu, suasana semakin hangat seiring kopi yang tinggal setengah di cangkir mereka.
“Kadang saya berpikir,” kata Andi sambil memandangi langit yang mulai jingga di luar jendela, “kenapa ya banyak orang suka menyalahkan keadaan? Padahal kalau ditelusuri, semua itu kan buah dari keputusan mereka sendiri.”
Budi mengangguk pelan. “Setuju. Saya pernah mendengar kalimat begini: hidup kita hari ini adalah hasil dari keputusan-keputusan yang kita buat di masa lalu.”
Andi tersenyum kecil. “Iya, tapi anehnya, orang sering lupa kalau waktu mereka mengambil keputusan, mereka dalam keadaan sadar. Mereka tahu risikonya. Tapi saat hasilnya tidak sesuai harapan, mereka malah menyalahkan takdir—tidak hanya takdir, tapi juga menyalahkan orang lain atas kondisi yang mereka hadapi.”
Budi menghela napas. “Iya, benar. Padahal kalau mau jujur, siapa yang membuat keputusan itu? Kita sendiri, kan? Tapi memang lebih mudah menunjuk jari ke luar daripada mengakui kesalahan diri sendiri.”
Andi mengangguk pelan. “Sepertinya itu karena mereka enggan bertanggung jawab. Akhirnya, mereka mencari kambing hitam supaya tidak merasa bersalah.”
Budi tersenyum tipis. “Dan ujung-ujungnya, bukan introspeksi yang mereka lakukan, tapi malah menyalahkan orang lain yang sebenarnya nggak ada hubungannya. Kalau terus begitu, kapan bisa belajar dan memperbaiki diri?”
Andi terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Masalahnya, banyak yang malas berpikir panjang. Apalagi sekarang, kebiasaan orang jadi makin dangkal gara-gara media sosial. Semua serba instan. Scroll sebentar, terus merasa sudah tahu semuanya.”
Budi tertawa kecil. “Betul sekali. Coba lihat saja, banyak yang membaca judul saja, lalu merasa sudah tahu isinya. Padahal kadang judul sengaja dibuat bombastis agar diklik, tapi isinya berbeda jauh.”
“Seperti kemarin,” Andi memotong, “ada yang menyebarkan berita soal ekonomi bakal krisis besar. Saya tanya, ‘sudah baca lengkapnya belum?’ Eh, jawabannya cuma, ‘nggak sempat baca, tapi saya lihat judulnya serem banget.’”
Budi menggeleng. “Itulah kenapa kita harus belajar dan membaca lebih banyak. Islam sendiri mengajarkan untuk selalu menuntut ilmu. Tapi kalau cara belajarnya hanya dari potongan-potongan pendek di media sosial, bagaimana bisa memahami sesuatu secara utuh?”
“Benar,” Andi menimpali. “Makanya banyak orang gampang dihasut. Tidak tahan membaca panjang, jadi langsung menyimpulkan dari yang terlihat di permukaan saja. Seperti menonton trailer film lalu merasa tahu ceritanya tanpa menonton filmnya.”
Budi tersenyum tipis. “Makanya, perintah pertama dalam Al-Qur’an itu ‘IQRA.’ Baca. Jangan hanya lihat sepintas, tapi pahami. Karena dengan membaca, kita bukan hanya mendapatkan informasi, tapi juga belajar bagaimana cara berpikir dan mengambil keputusan yang benar.”
Andi menatap Budi dengan kagum. “Bener juga. Kalau orang malas membaca, ya wajar saja kalau mereka salah mengambil keputusan, lalu menyalahkan orang lain atau keadaan.”
“Makanya,” Budi menutup pembicaraan dengan suara mantap, “kita perlu mengingatkan diri sendiri dan orang lain untuk terus belajar, membaca, dan berpikir sebelum berbicara atau mengambil keputusan. Jangan hanya ikut arus atau asal menyimpulkan dari yang terlihat saja.”
Percakapan mereka pun berlanjut, membahas bagaimana belajar dan membaca bisa menjadi kunci untuk memahami hidup lebih baik dan mengambil keputusan yang lebih bijaksana.
Tak lama Wati dan Siska ditemani Iwan datang…
-mistercatur-
Silakan di-share kalau menemukan manfaatnya ![]()


