Kabar soal kenaikan PPN jadi 12% mulai 2025 belakangan ini bikin heboh. Banyak yang bertanya-tanya, kenapa sih pajak terus naik? Banyak yang marah marah protes dan juga tidak sedikit yang coba adaptif.
Sedikit kilas balik, kenaikan ini sebenarnya bagian dari UU HPP (Harmonisasi Peraturan Perpajakan) yang diterbitkan pada 29 Oktober 2021. Aturan ini mengatur banyak hal soal perpajakan, termasuk rencana kenaikan PPN bertahap—dari 10% ke 11% di 2022, dan 12% mulai 2025. Alasan utamanya? Menambah penerimaan negara dan memperbaiki keseimbangan fiskal.
Jadi ini bukan hal yang baru, tapi sudah direncanakan, sayangnya kita ini malas baca , sekalinya baca, baca headline alis klik baitnya saja. Kalau yang sudah baca dan tau peraturan ini akan hadir di 2025, dia sudah mempersiapkan diri dan strategi usahanya. Salah satunya saya, ya saya sudah melakukan tax planning di perusahaan dengan terus memantau kebijakan negara
Sekarang Pertanyaannya, kita harus ngapain kalau baru tau?
Ada dua pendekatan: reaktif atau adaptif.
1. Reaktif:
Mau protes? Silakan. Hak kita sebagai warga negara. Caranya:
– Menghubungi anggota dewan yang kita pilih biar suara kita sampai.
– Bikin surat terbuka atau petisi buat menyuarakan keresahan.
– Ikut gerakan boikot pajak (tapi harus siap mental, fisik, dan hukum kalau kena sanksi).
2. Adaptif:
Kalau nggak mau energi habis buat ngeluh, kita fokus aja ke apa yang bisa dikontrol:
– Rasa cukup. Bedakan mana kebutuhan dan keinginan. Beli yang perlu, bukan yang bikin pengen aja.
– Efisiensi usaha. Tekan biaya produksi, cari cara lebih hemat, dan terus berinovasi.
– Hindari utang. Apalagi yang ke pinjol. Jangan sampai gali lubang tutup jurang.
– Kerja keras dan berkarya. Lebih baik energi dipakai buat cari solusi daripada habis di keluhan.
– Belajar dan mencoba hal baru. Supaya kita nggak ketinggalan dan bisa tetap kompetitif.
Saya shate contoh kisah Nyata:
Ingvar Kamprad dan IKEA
Ingat Ingvar Kamprad, pendiri IKEA?
Ia membangun bisnisnya di Swedia saat pemerintah memberlakukan pajak yang sangat tinggi. Pada tahun 1970-an, tarif pajak penghasilan di Swedia bisa mencapai 85% untuk individu berpenghasilan tinggi.  Bukannya menyerah, Kamprad justru berinovasi. Ia merancang sistem self-assembly furniture yang lebih murah dan efisien. Bahkan, untuk mengurangi beban pajak, ia memindahkan sebagian operasinya ke negara lain dengan tarif pajak lebih rendah, seperti Swiss.  Hasilnya? IKEA kini jadi raksasa furnitur dunia dengan omzet triliunan.
Apa pelajarannya? Tekanan bisa memunculkan inovasi. Bukannya tenggelam di protes dan keluhan, Kamprad memilih bangkit dengan ide-ide baru.
Ingat ini:
Hal-hal di luar kontrol kita, kayak kebijakan pemerintah, emang susah diubah. Kalau dipaksain, cuma akan menghabiskan energi dan bikin capek sendiri. Tapi yang bisa kita kontrol? Diri kita sendiri.
Terus semangat kerja, terus berkarya. Nggak ada jalan buntu buat orang yang mau belajar dan berusaha. Ingat, masalah nggak selalu bisa dihindari, tapi selalu bisa dihadapi dengan sikap yang tepat.
Kalau mau berubah lebih baik negara ini, perbaiki diri dan berdoa semoga dihadirkan wakil rakyat dan pemimpin yang alim dan tidak dzalim.
-mistercatur-
Diminta nyalon 2029



