Percakapan Budi dan Andi semakin mendalam, membahas tanggung jawab dan peran yang telah Allah titipkan kepada setiap manusia. Namun, suasana di kafe kecil itu perlahan berubah saat pintu terbuka, dan tiga orang berjalan masuk.
“Eh, itu Wati sama Siska, ya?” Andi menunjuk ke arah dua perempuan yang baru masuk bersama seorang pria tinggi dengan kemeja biru.
Budi menoleh, lalu tersenyum. “Iya, mereka bertiga sering ke sini. Itu Iwan, kalau nggak salah. Teman kantor mereka.”
Ketiganya mendekat dan menyapa. “Halo, Andi, Budi! Lagi diskusi serius, nih?” Wati membuka percakapan sambil menarik kursi.
“Serius tapi santai,” jawab Andi sambil tersenyum. “Kami lagi bahas soal peran yang Allah titipkan ke kita. Gimana menurut kalian?”
Siska menaruh tasnya di meja. “Peran? Maksudnya seperti tugas yang harus kita jalani di dunia ini, gitu?”
Budi mengangguk. “Benar. Allah menciptakan kita bukan tanpa tujuan. Setiap kita punya peran, baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat.”
Iwan, yang sejak tadi diam, tiba-tiba bersuara. “Tapi gimana kalau kita nggak tahu peran kita apa? Kadang saya merasa hidup cuma berjalan begitu saja tanpa arah.”
Andi menatap Iwan dengan penuh pengertian. “Itu pertanyaan yang wajar, Wan. Saya juga pernah merasa begitu. Tapi kalau kita mau melihat lebih dalam, sebenarnya petunjuk tentang peran kita itu ada dalam hal-hal yang sudah Allah berikan: kemampuan, kesempatan, bahkan cobaan. Itu semua mengarahkan kita ke peran yang harus dijalani.”
Siska menyela dengan antusias. “Iya, benar. Saya jadi ingat, waktu kecil saya suka banget mengajar adik-adik saya di rumah. Awalnya cuma main-main, tapi sekarang saya sadar mungkin itu cara Allah mengarahkan saya untuk menjadi guru.”
Wati tersenyum mendengar cerita Siska. “Kalau saya, mungkin peran saya ada di keluarga. Ibu saya sering bilang, ‘Wati, kamu ini pengikat keluarga.’ Awalnya saya nggak paham, tapi sekarang saya merasa itu tugas saya untuk menjaga keharmonisan di rumah.”
Budi tersenyum. “Nah, itu dia. Setiap kita punya peran yang unik. Ada yang perannya besar dan terlihat, ada yang kecil tapi sangat berarti. Kuncinya adalah menjalani peran itu dengan ikhlas, karena pada akhirnya kita semua akan dimintai pertanggungjawaban.”
Iwan terlihat merenung. “Tapi kadang peran itu terasa berat. Apalagi kalau harus mengorbankan keinginan pribadi.”
Budi menepuk bahu Iwan. “Benar, Wan. Tapi di situ letak ujiannya. Allah nggak akan memberikan peran yang kita nggak mampu jalani. Dan biasanya, di balik setiap kesulitan, ada pelajaran yang membuat kita jadi lebih kuat.”
Wati, Siska, dan Iwan mendengarkan dengan penuh perhatian. Percakapan itu membawa suasana baru, bukan hanya membahas tentang peran, tapi juga bagaimana mereka bisa lebih peka terhadap amanah yang sudah Allah titipkan dalam kehidupan masing-masing.
Langit malam mulai gelap, tapi di dalam kafe kecil itu, hati mereka menjadi lebih terang. Mereka sadar, setiap langkah, setiap keputusan, adalah bagian dari menjalankan peran yang telah ditetapkan Sang Pencipta.
-mistercatur-


